I Love myEXIT ! :*
“teeeet.. teeet.. teeet..”. bel pertanda masuk kelaspun
telah dibunyikan. Hari ini hari pertamaku duduk dikelas XI. Ya, aku akan
menjalani lembaran baru dengan segudang pelajaran yang berhubungan dengan alam.
Oke, bisa ditebak, aku masuk jurusan IPA, yang kata orang, IPA itu adalah
jurusan yang bagus. Menurutku semua jurusan itu sama. Sama-sama memiliki
kekurangan dan kelebihan. Aku kurang setuju jika ada orang yang selalu bilang,
“ciee, anak IPA tuh.. anak IPA mana mau temenan sama anak IPS ?”. aduuh..
kalimat yang tak enak didengar. Yang merasa anak IPA, pasti tersinggung dengan
kalimat seperti itu.
Hmm,
oke, kita nggak usah bahas itu lagi. Sekarang semua murid disuruh berkumpul
didepan ruang guru. Wakil kesiswaan akan mengumumkan dikelas mana kami akan
ditempatkan. pada saat itu kelas IPA dibuka 2 kelas dan tahun pertama kelas
Bahasa dibuka juga. Dengar-dengar, baru ditahun ini kelas IPA yang dibuka 2
kelas. Pada saat kelas XI IPA 1 diumumkan, namaku tak terdengar disebut.
Berarti aku masuk ke kelas IPA 2. Aku mendengar siapa-siapa saja yang sekelas
denganku, mana tau aku mengenal mereka. Ya, ternyata aku kembali sekelas dengan
Kenny, Dian, Citra dan Reza. Mereka dulu sekelas denganku dikelas X. dan bukan
hanya dia, tetanggaku yang bernama Fajri dan Ilham juga sekelas denganku. Aku
merasa lega karena banyak yang aku kenali dikelas itu.
Setelah
pembagian kelas selesai, aku bergegas menuju kelas baruku. Aku ingin mendapat
tempat duduk yang strategis dan pastinya nggak dibelakang lagi seperti kelas X
dulu. Alhamdulillah, kelas masih sepi dan aku duduk dibangku nomor dua dekat
jendela. Lagi-lagi aku duduk dengan Kenny. Karena aku tak banyak mengenal murid
dikelas baruku itu.
Pelajaran
pertama dimulai. Guru yang masuk adalah guru Bahasa Indonesia. Kami disuruh buat
sebuah cerita pendek tentang pengalaman masing-masing. Aku bingung harus
menceritakan tentang apa, karena aku lagi nggak dapat inspirasi. Aku merasa
otakku error karena melihat teman-teman baruku. Hahaha. Sebenarnya tak begitu,
hanya aku saja yang sedang tidak ingin menulis. Tapi ini tugas pertama, aku
harus membuatnya walau Cuma apa yang teringat aja. Hehe.
Seiring
dengan berjalannya waktu, keadaanpun berubah. Dikelas XI ini, aku tidak
berpindah-pindah duduk dengan sesuka hati. Hanya saja wali kelasku sendiri yang
memindahkan tempat dudukku. Ya, aku pisah duduk dengan Kenny. Sebenarnya sedih,
tapi aku merasa lega, karena aku didudukkan dengan Aina, seseorang yang sudah
tidak asing lagi untukku. Karena dia teman SMP-ku, dan aku juga pernah sebangku
dengannya waktu dikelas VIII dulu.
Hanya
mengobrol dengan Aina, membuatku merasa belum puas. Aku ingin berteman dengan
semua teman-temanku dikelas itu. Dengan bermodalkan jurus basa basi dengan
Fajar dan Fadil, aku memanfaatkan cara itu untuk mendekatkan diri dengan
mereka. Fajar itu adalah tetanggaku. Awalnya aku mendekati dia dulu. Tapi
karena aku juga udah dekat dengan Fadil, pendekatanku dengan anak-anak yang
duduk dibagian belakang sudah bisa dibilang berjalan mulus, walau rata-rata
dari mereka adalah anak-anak cowok.
Aku
melihat orang-orang yang ada disekelilingku. Ternyata ada Reza dan Citra yang
duduk didepanku. Karena dikelasku yang sekarang ini agak sempit, mejaku dan
meja teman disebelahku digabungkan. Karena itu juga, aku, Dean dan Silviia bisa
berteman. Mereka itu pintar dan baik denganku. Anaknya lucu, walau agak centil
kelihatannya, tapi di baik kok. Hehe. Tapi mataku terfokus pada dua orang
cewek, yang menurutku sangat aneh. Karena kerjaan mereka suka permisi keluar
setiap jam. Aku tak mengerti tujuan mereka apa untuk permisi. Tapi aku
pastikan, mereka itu ga betah didalam. Karena sepertinya tak ada teman yang
mereka kenal.
Aku tak
begitu ingat kenapa aku bisa dekat dengan mereka. Mereka itu bernama Wina dan
Chesa. Aku jadi sering ngobrol dengan mereka. Apalagi dengan wina. Semenjak aku
pindah duduk dengannya, kami semakin akrab. Ternyata mereka tak seperti yang ku
bayangkan. Mereka anak yang asyik dan heboh banget. Kehebohan kami membuat aku
semakin mudah berinteraksi dengan yang lainnya. Teman yang ku kenal dikelas
makin bertambah. Misalnya Hary dan Nino. Sebelumnya mereka juga sudah aku
kenal. Tapi dikelas XI ini kami semakin akrab.
Hari-hariku
semakin berwarna karena kehadiran mereka. Aku merasa menemukan sesuatu yang
baru, yang aku sendiri merasa nyaman dengan itu. Sampai pada suatu hari, kami
merencanakan untuk pergi refreshing. Kebetulan, hary dan Nino punya kendaraan.
Awalnya Cuma aku, Wina, Chesa, Dina (pacarnya Hary), Egi dan Reza saja yang
diajak. Tapi akhirnya Dian, Tio dan Tilapun diajak. Rame sekali. Tapi itu yang
membuat kebersamaan kami terjalin. Aku merasa hari itu sangat menyenangkan.
Makan bareng-bareng, foto-foto, becanda dan ketawa bareng-bareng, itu adalah
hal yang tak akan aku lupakan.
Besoknya
disekolah, kami membahas tentang perjalanan kemarin. Walau hujan, tapi kami
tetap semangat. Aku bertanya kepada yang lainnya, “kapan kita akan mengulan
hari seperti kemarin lagi ? sangat menyenangkan untukku”. “ya, memang
menyenangkan, tapi lain waktu kita cari hari yang pas lagi, biar lebih asyik”,
jawab Hary.
Bulan
demi bulan silih berganti. Sudah banyak kenangan indah yang kami ukir. Ada
suka, ada duka. Sampai pada akhirnya kami harus menghadapi ujian kenaikan
kelas. Tak terasa sudah hampir setahun kebersamaan kami. Waktu memang berjalan
begitu cepat. Ketika libur semester, kami berencana akan pergi merayakan
ulangtahunku, Wina dan Nino. Karena kebetulan bulan lahir kami sama. Tapi
rencana hanya tinggal rencana saja. Apa yang telah direncanakan, batal dengan
sendirinya. Itupun karena aku. Aku tak dapat izin untuk pergi keluar kota
bersama mereka. Dari dulu, untuk mendapatkan izin keluar kota bersama
teman-temanku tak pernah kudapat. Alasannya simple saja, orangtuaku nggak mau
nanti terjadi apa-apa pada kami. Ya, aku memaklumi, walau dengan itu semua
rencana gagal.
Tepat
pada hari ulang tahunku, tak ada yang special. Tak ada kue, kado ataupun pergi
untuk merayakannya. Memang, hal seperti itu tak harus ada disetiap ulang tahun.
Tapi ntah lah, aku merasa sedih pada saat itu. Ketika Wina ulang tahun, kami
menghadiahinya beberapa buah telur. Biasalah, kerjaan anak-anak sekolah, setiap
yang ulangtahun pasti dapat jatah. Untungnya aku tak diberi, karena ketika
ulang tahunku, kami tidak sekolah.
Tak
terasa, liburan hampir saja usai. Yang menjadi harapan kami ketika hari pertama
sekolah adalah kelas kami tidak dipisah. Karena kami merasa sudah menjadi satu
keluarga dikelas IPA 2 ini. Yang kelas itu sendiri, kami beri nama EXIT, yang
berarti “thE XII sains Two”. Nama yang simple, tapi mudah diingat. Haha.
Dengan merasa harap-harap cemas,
kamipun mendengarkan pengumuman dari wakil kesiswaan. Sorakan gembira murid
kelas XII menandakan bahwa kelas kami tidak dipisah. Bersyukur banget atas apa
yang telah diberikan.
“yeeey,
kita nggak jadi pisah !”, teriakku.
“iya
dong, kita kan udah kayak satu keluarga, masa dipisah lagi sih, kan ga asyik
juga mulai dari awal lagi”, ujar Chesa
“iya,
untung pihak sekolah mengerti maksud kita”, Wina menambahkan.
Sekarang,
kami sudah duduk dikelas XII. Berharap semua murid dikelas XII IPA 2 lulus
seratus persen (amin), karena itulah harapan kami. Masuk bareng-bareng, keluarnya
juga harus bareng-bareng. Semoga juga persahabatanku akan terhalin selamanya,
walau nanti jarak akan memisahkan kami, aku berdoa kepada Tuhan, supaya hati
kami tetap disatukan. AMIN J